Ketika akhirnya aku memberanikan diri menghadapi kenyataan, yang terburuk datang.
Mungkin aku mengambil waktu yang salah, mungkin aku terburu-buru, tapi biarlah, aku hanya ingin memulai kehidupan baruku dengan tenang.
Kau takkan mengerti. Bahkan mereka tak mengerti.
Didepan mereka aku telihat kuat, tersenyum tertawa seperti biasa.
Didepan kalian aku juga berusaha kuat, tidak menangis.
Tapi, aku gagal meyakinkan diriku sendiri.
Kukira, seperti katamu, aku akan baik-baik saja.
Tapi itu hanya harapanku, karena baru kusadari waktu itu aku sangat lemah.
Aku hanya bisa menangis sembunyi, memasang topeng. Mengalihkan pikiran dengan kesibukan.
Berminggu-minggu, hingga akhirnya aku kesepian.
Rasanya, ingin sekali ada seseorang diluar sana yang menarik dan membantuku.
Aku sudah lelah, jenuh.
Tapi kemudian, kurasakan hatiku mulai membaik.
Biar kukatakan,
memang benar kejujuran itu terkadang menyakitkan, tapi percayalah, suatu saat kita akan bersyukur untuk itu.
patah hati memang menyesakkan, tapi kita akan kuat karenyanya.
ketika kita merasa tak ada yang menyayangikita, ingatlah orangtua kita.
yang bisa menyembuhkan patah hati, hanyalah waktu.
Biar kuungkapkan,
ketika seseorang baru saja patah hati, ia akan cenderung menjaga hatinya tetap utuh. Ia akan menutup hatinya.
ketika ia tak sanggup lagi, ia lelah dan kesepian.
perlahan kepingan itu jatuh, dan sisa-sisa hatinya benar-benar berharap akan ada yang menyatukan kembali kepingan itu.
puncak rasa kesepian.
dan ketika kita tau ada yang bisa mengerti kita, tenang rasanya.
percayalah, masalah yang kita hadapi akan membuat kebahagian kita kelak menjadi semakin berharga dan layak untuk dikenang.
Dan saat itu, kurasa kita akan mengerti betapa mulianya Tuhan.

