Beranda

Selasa, 06 September 2011

I Would Not Run Away.


Jujur, kadang aku menyesali keputusanku, aku ngerasa ini bukan tempatku, bukan duniaku. Jenuh mungkin.
Rasanya aku ingin mundur, ingin lari. Kadang aku ingin jadi egois, ingin memaksa lingkungan yang menerimaku, bukan aku yang menyesuaikan dengannya.

Sebenarnya, baikkah berusaha mengubah jati diri sendiri? Aku bener-bener nggak ngerti. Aku cuma pernah denger orang bilang menemukan jati diri, buka mengubah jati diri. Tapi, bagaimana jika ketika kau baru menemukan jati dirimu dan kau berada di dunia yang tidak sesuai dengan dirimu?

Kadang aku merasa aku menentang diriku sendiri, merasa aku terlalu memaksakan diri. Tapi pada akhirnya, yang aku tau cuma aku nggak bisa lagi mundur, karena ini keputusanku dan seharusnya aku udah tau konsekuensinya dari awal.

Benar kata orang, ketika akhirnya kita memutuskan untuk maju, sebaiknya kita tak lagi melihat kebelakang. Maka dari itu, meskipun semua ini akan sangat melelahkan, aku akhirnya memutuskan untuk tetap maju. Karena...

'Ia' sudah menyadarkanku akan begitu banyak hal, mengajarkan nilai-nilai yang begitu berharga,
Aku sudah bertekad akan berusaha mengharumkan nama'nya',
Aku sudah bertekad untuk memberikan sesuatu untuk'nya',
Aku akan berusaha membuat keputusanku menjadi keputusan yang terbaik,
Aku yakin inilah yang terbaik dari Tuhan,
Aku memang harus melalui ini semua,
Aku tidak bisa lari dan menyerah,
Aku tidak mau lari dan menyerah,
Aku tidak boleh lari dan menyerah,
Akulah yang membuat keputusan ini.

"So, I decided that I wouldn't run away anymore. Whether I will be able to go through with that or not is a gamble, but I think that this is a trial from God that I have to go through, so I will give it my all and fight, believing in my own possibilities." -Skip Beat!-


0 komentar:

Posting Komentar