Suara pelan seperti ayam jago berkokok terdengar pelan diantara suara kerumunan manusia yang menyerbu jajaran meja. Manusia itu, termasuk aku, mencari beberapa obat yang tersanding diatas meja, agar ayam jago itu berhenti berkokok.
Hari itu adalah hari persidangan, dimana akan ditentukannya kepantasan seseorang untuk semakin meninggalkan masa bersenang-senang dan kekanak-kanakkannya dan menuju dunia dimana kerja otak dibutuhkan.
Kerumunan manusia itu makin banyak saja. Maka aku pun berusaha pergi dari situ menuju ke depan ruang sidang. Aku menoleh ke arah ruang dimana para hakim berkumpul. Dan seseorang yang duduk dibelakangku dalam ruang sidang meneriakiku sesuatu.
Tepat saat itu, aku menyadari sesuatu.
Lebih tepatnya disadarkan akan sesuatu yang baru.
Tepat saat itu, aku mulai menyakiti diriku sendiri.
Membohongi dan menyembunyikan diriku yang pecundang ini.
Dan kini, kusadari semuanya sudah salah sejak awal.
Dan aku selalu mempersulit keadaan.
Menghapuskan setiap peluang.
Dan aku ini pecundang, munafik.
Tapi setidaknya aku tidak pernah berkata tidak akan sesuatu itu.
Dan beruntungnya aku tak ada manusia yang bertanya.
_____


0 komentar:
Posting Komentar